Sabtu, 22 Agustus 2020

Ekonomi memang hal yang penting, tapi haruskah dijalankan dengan kesombongan?


Saya ingin berbagi cerita, bapak saya terconfirmasi covid-19. 
sejauh yang saya tahu, bapak adalah orang yang disiplin mengikuti protokol covid. Selain karena saya orang yang cerewet masalah kesehatan keluarga, mungkin juga karena dia menganggap dirinya kaum rentan. Karena situasi ekonomi keluarga yang tidak baik bapak memutuskan untuk mencari sampingan untuk sekedar menambah uang dapur.

Ibu dan istri saya di PHK, hanya saya dan bapak kini yang bekerja. Yah hidup di Indonesia negara yang sama sekali tidak ada keberpihakannya terhadap buruh sebagai skrup-skrup kecil penggerak roda ekonomi negara membuat mereka sama sekali tidak ada pemasukan selama beberapa bulan terakhir. 

Bapak mencari uang tambahan dengan membantu kawannya berjualan, jualannya lumayan ramai dan diminati anak muda. beberapa kali saya lewat kesana banyak yang berbelanja tidak mengikuti protokol kesehatan. Setidaknya pakai masker. Belum lagi ojek online yang nongkrong bergerombol didepan warung. mungkin mereka menganggap dirinya kuat, tp mungkin lupa dengan orang sekitar yang rentan. Kadang saya berfikir, ekonomi memang hal yang penting, tp haruskah menjalankan dengan kemachoan? Atau karena pengaruh media sosial akhir-akhir ini yang membuat orang tak lagi ikuti protokol kesehatan? Entahlah.. Mungkin ini bagian dari kesesatan pikiran saya.

Ketegasan pemerintah dalam penanggulangan wabah juga tidak ada. Omong kosong, hanya menunggu yang terjangkit lalu diobati. Bagi saya itu bukan penanggulangan, tp terima nasib.

Hal-hal itu tentu membuat saya khawatir akan kesehatan bapak saya yang suatu saat mungkin akan terpapar. Beberapa kali saya mewanti agar tak usah lagi membantu berjualan apalagi harus berhadapan dengan orang banyak. Tapi lagi-lagi alasan bapak biar ada pemasukan. saya tak berani melarang meski takut, hanya doa pada semesta berharap nasib baik selalu melindungi. (pada point ini saya merasa gagal sbg seorang anak)

seminggu yang lalu bapak demam, dirawat oleh saya dan ibu. rasa khawatir selalu mengikuti ketika harus berkontak langsung dengan bapak karena saya memiliki istri dan anak dibawah 2 tahun dan ibu yang fisiknya tak lagi seperti dulu. Selama perawatan saya selalu menggunakan masker dan mencuci tangan setelah kontak, tak lupa pula menggunakan handsanitazer sebagai perlindungan lebih. Saya harap cukup dan yakin cukup untuk melindungi seandainya itu bukan penyakit yang biasa.
Anak dan istri saya ungsikan kerumah mertua, berharap tidak tertular. 

3 hari setelah demamnya reda dan bapak sudah merasa sehat, saya ajak kembali anak dan istri pulang. Saya rasa sudah aman karena melihat kondisi bapak baik dan meyakini itu bukan virus Covid19.

Sehari setelah anak dan istri saya ajak pulang, demam bapak kumat lagi, diikuti dengan batuk dan sesak. Kembali saya ungsikan anak dan istri setelah itu mengajak bapak untuk test darah. Hasil test darah begitu tidak baik, sel darah putihnya turun drastis, kadar Monosit tinggi dan Eosinofil yang rendah menandakan bahwa ada infeksi yang terjadi dalam tubuh. 

Dari pembacaan hasil lab saya langsung mengajak bapak pergi ke IGD Bali Mandara untuk di Rapid dan screning. Hasilnya reaktif, hasil rontgent ada infeksi di Paru-paru, diianjurkan untuk swab. Keesokan hari saya ajak bapak swab dan dibarengi dengan ibu yang mengalami demam. Dua hari setelah swab, hasil positif yang keluar. Betapa hancur hati saya, apa yang saya khawatirkan akhirnya terjadi. Beruntung teman-teman dokter yang saya kenal selalu support dan memberi petunjuk yang baik. 

sejak gejala pertama muncul, bapak dirawat di sanglah setelah isolasi mandiri dirumah karena susahnya berjuang mencari ruangan isolasi karena rumah sakit untuk penanganan covid19 penuh akibat dari penyebaran penyakit yang meluas disertai dengan banyaknya orang yang tak lagi peduli dengan protokol kesehatan. kondisi bapak masih bisa dikatakan baik setelah diberikan doping vitamin dan konsumsi obat-obatan yang banyak.

Pagi ini saya dan keluarga akan diswab. Kekhawatiran saya ada pada si kecil, buah hati saya satu-satunya. Selama ini saya selalu taat protokol kesehatan, keluar rumah hanya ketika ada keperluan saja, pun mengindari keramaian. 
semoga saja ini tidak terjadi pada keluarga yang lain. 

Bagi saya hal ini menjadi pembelajaran yang sangat penting disaat pandemi. Menjauhkan ego serta memiliki empati itu sungguh luar biasa saya kira. Empati terhadap kaum rentan, anak-anak, para pekerja yang menggerakkan roda ekonomi dan tentu saja bagi para tenaga kesehatan yang saya saksikan langsung bagaimana sibuk dan lelahnya mereka menghadapi situasi yang sama sekali tidak biasa ini. 

If you think you are superman, think twice. In this case, not everyone is superman as you think you are. semoga semesta memberkati semuanya.

Ady Apriyanta Parma

Kamis, 20 Agustus 2020

EKONOM: RUU CIPTA KERJA AKAN MEMPERLUAS LAPANGAN KERJA


Pengamat ekonomi-politik Center for Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri mengatakan keberadaan Omnibus Law Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (RUU Ciptaker) akan memperluas lapangan kerja baru bagi masyarakat.

Yose menyebut kebijakan ketenagakerjaan selama ini terlalu rekstriktif. Oleh karena itu, RUU Ciptaker akan mengurai aturan yang selama ini membatasi pembukaan lapangan pekerjaan.

"Harusnya kan ini melindungi tenaga kerja tetapi malah kebalikannya, ini mungkin melindungi tenaga kerja yang sudah bekerja, tapi dia membuat dunia usaha tidak mau atau menjadi sungkan untuk merekrut tenaga kerja baru," kata Yose kepada wartawan, Rabu (19/8).

Yose mengatakan sektor padat karya terus mengalami penurunan perannya di dalam perekonomian Indonesia. Sebelum krisis 1998, setiap tahun sektor manufaktur menghasilkan lapangan pekerjaan lebih dari 250 ribu pekerjaan.

Sementara sejak 2000 sampai 2012, sektor manufaktur hanya bisa menghasilkan lapangan pekerjaan di bawah 50 ribu per tahun. Setelah 2012, sektor manufaktur bisa menghasilkan hingga 150 ribu per tahun.

"Ini artinya perekonomian kita tumbuh dengan pesat tetapi kurang menghasilkan lapangan pekerjaan," ujarnya.

Yose menyebut tujuan dari pembuatan RUU Ciptaker adalah untuk memperbaiki iklim usaha dan iklim investasi di Indonesia. Menurutnya, akumulasi modal atau investasi di Indonesia masih di bawah negara lain di Asia Tenggara.

"Kemudian kita juga melihat bahwa produktivitas di Indonesia ini ini cenderung rendah ya. Kenapa rendah? karena cost of doing business itu tinggi, biaya untuk menjalani usaha itu tinggi," kata Yose.

"Ini macam-macam sumbernya. Makanya kemudian sumbernya dari cost of doing business itu diperbaiki oleh RUU Cipta Kerja ini," ujarnya menambahkan.

Selain itu, kata Yose, RUU Ciptaker juga memperbaiki permasalahan regulasi yang tumpang tindih, perizinan investasi, peraturan di tingkatan daerah yang tidak baik untuk investasi. 

Sumber: jpnn

Rabu, 19 Agustus 2020

Kenapa kemiskinan terjadi? ( berdasarkan sudut pandang pengusaha)


Pengalaman saya membantu orang untuk menaikkan ekonominya

Saya melihat kemiskinan di Indonesia bukanlah karena korupsi atau penindasan. Melainkan karena orangnya yang malas. Berpuluh-puluh kali saya mendapati orang yang membuat saya menyesal telah membuang buang waktu saya untuk mereka. Misalnya:

Saya sempat ajari orang yang mengeluh di bis jaman dulu untuk mencari uang, tetapi bergerak pun tidak mau dengan alasan, yah beginilah pak, saya orang kecil, ga ngerti apa apa, masih bego. Coba pemerintah lebih peka dikit dan kasih lapangan pekerjaan. Tetapi di bis dia mengeluhkan pemerintah yang menindas rakyat
Saya pernah juga menawarkan seseorang untuk bekerja di kapal dengan gaji belasan juta sebulan. Tetapi orang tersebut menolak karena masih ada orang tuanya, yang masih berumur 40 an tahun. Dan dia menyalahkan pemerintah yang ga becus mengurus negara sehingga harga harga naik.
Saya pernah juga menawarkan orang bekerja sebagai dropshipper, sampai saya ajari. Tetapi orang tersebut bilang ribet ah. Padahal dia barusan mau pinjam uang untuk beli baju buat lebaran. Dan dia pun menyalahkan pemerintah, coba kalau pemerintah peka, mikirin kita kita yang kecil gini, mau beli baju lebaran aja harganya naik semua.
Saya juga pernah menawarkan orang untuk berjualan barang, tapi dibilang hasilnya kecil, ga nutup.
Di kantor lama saya, salah satu sister company dulu, yang lokasinya sekarang sering ribut TKA cina. Teman saya yang manager sering mengeluhkan susah mencari karyawan. Penduduk sekitar minta gajinya ngga masuk akal punya. Kalau ga digaji segitu ga mau kerja. Gimana mau jalan kayak gini. Dan mereka sempat demo menyalahkan lapangan pekerjaan diserobot TKA Cina. Terus, mereka ga mau kerja, tapi orang yang mau kerja juga ga boleh. Lalu kita suruh bangkrut gitu?
Yang paling bikin saya emosi, adalah seorang lulusan sarjana yang mendaftar lowongan kerja. Pada waktu saya resign dari kantor lama saya, beberapa belas tahun lalu, saya sempat bertemu dengan kandidat yang cukup matang, tetapi pada waktu saya tunjukkan gajinya "cuma" 3 juta plus bonus service charge rata rata 2 juta sampai 4 juta sebulan, dia katakan gajinya kekecilan.tahun 2007 waktu itu. Ironisnya, saya terima email beberapa bulan kemudian dia bertanya masih ada lowongan ngga pak, tapi yang gajinya masuk akal. WTF?
Pengalaman di kantor tempat saya bekerja saat ini

Di kantor saya yang sekarang pun ada orang orang yang tidak mau serius bekerja, sampai pada kejadian lucu beberapa hari lalu.

Jadi saya saat ini bekerja di sebuah perusahaan internasional yang cukup besar dan mapan di bidang container makanan. Pada waktu kantor baru saya berdiri, kami menawarkan pekerjaan pada penduduk sekitar dengan gaji lumayan lah.. standard, tapi standar memang sudah diatas UMR karena ada faktor skill, dengan jumlah terbatas karena kami memang tidak butuh orang banyak.

Masalah pertama muncul segera setelah proses screening selesai, dan karyawan yang diterima diumumkan, maka dimulailah tahap kedua. Negosiasi gaji. Anda tahu komentar mereka? Masak perusahaan sebesar ini gaji cuman segitu? Jadilah tinggal sekelompok orang yang mau, dan yang lain meninggalkan kantor. Tetapi beberapa saat kemudian, muncul demo minta tambahan penerimaan karyawan. Alasan juru bicara mereka, masak perusahaan sebesar ini (area kami sekitar 3 hektar bangunan produksi) karyawan yang bekerja hanya 100 an orang? Akhirnya bu lurah pun datang, bantu negosiasi. Kemudian kami bawa sang lurah berkeliling pabrik untuk menunjukkan situasinya, dengan menggunakan perlengkapan produksi. APD, masker, hairnet, dan sepatu khusus. Waktu itu bu lurah bilang, ribet ya? Kami juga jelaskan pada bu Lurah, bahwa kalau ada ketombe ibu yang jatuh, maka ada kemungkinan atau ketombe itu akan dimakan oleh bayi bu lurah pada waktu dia beli susu di supermarket. Hahaha.. anda harus lihat mukanya yang terkejut dan memastikan tubuhnya, baju, rambut dan wajah hingga kaki semua tertutup pengaman. Dan dia pun melihat bahwa ruang produksi, hanya ada beberapa orang bekerja di bilik, sedangkan seluruh mesin bergerak sendiri tanpa manusia dari pengisian material, pembuatan, packing ke dus, sampai dibawa forklift. Tanpa manusia. Akhirnya kami setelah negosiasi, sepakat menambah 100 lagi karyawan tambahan. Beberapa otomatisasi dimatikan, seperti wrapping yang tidak lagi otomatis, dan lainnya untuk memberi tempat kerja bagi mereka.

Masalah kedua pun muncul. Dimulai dengan seseorang yang tertabrak forklift. Forklift kami otomatis, mengambil raw material, dan menuangnya ke container bahan baku sebuah mesin, lalu membawa kembali dus yang telah di wrap. Well, sekarang di-lakban karena dilakukan manusia. Dan forklift tersebut hanya bergerak di jalur kuning, yang dipenuhi gambar orang yang disilang warna merah. Dan karena forklift tidak memiliki mata, maka dia tetap berjalan setelah menabrak karyawan tersebut. Luka tidak parah, tetapi setelah diobati, karyawan tersebut pun dipecat. Keributan dengan asosiasi buruh setempat pun terjadi, dan akhirnya forklift pun kami matikan otomatisasinya, dan berubah menjadi manual pula, yang pada hari pertama, merusak double gate yang difungsikan sebagai filter udara karena operator tidak terbiasa mengoperasikan forklift otomatis.

Masalah ketiga kemudian adalah karyawan yang membawa pop mie, dan membuangnya ke tong sampah "reject". Plastik adalah bahan daur ulang. Jadi setiap produk yang tidak lolos, bisa digiling untuk kemudian dibuat kembali. Karena tong sampah nya sudah tercampur popmie dan kuahnya, maka tidak mungkin di daur ulang kembali. Ada 2 hal yang dilanggar karyawan tersebut. Pertama, membawa benda asing ke dalam ruang produksi, dan kedua membuang "sampah" tidak pada "tempatnya". Well, dalam hal ini persepsi "tempatnya" berbeda. Area benda asing ada di dalam bilik office, sedangkan area produksi tidak boleh ada apapun. Dan kemudian karyawan tersebut dipecat. Kembali lagi lagi kepala buruh datang, dan menuduh kami memecat karyawan hanya karena "makan pop mie". Lah iya.. makan pop mie nya dimana? Itu pop mie sudah menyebabkan beberapa puluh ribu container dan material dari 3 buah mesin di sekitar lokasi dia terkontaminasi dan harus dibuang.

Masalah keempat, adalah kerusakan robot. Karyawan membuka pintu mesin pada waktu robot masih bekerja, untuk memastikan label yang diletakkannya adalah label yang benar. Hal ini menyebabkan mesin berhenti bekerja, tetapi robot tetap bergerak, dan akhirnya menabrak mesin. Karyawan itupun dipecat, tidak ada keributan selain masalah pesangon.

Masalah kelima, adalah karyawan yang merokok. Karyawan ini merokok di luar ruangan, tetapi keluar melalui emergency exit, mengganjal pintu, dan masuk kembali melalui pintu tersebut dengan membawa kotoran dari luar di sepatunya, dan nyamuk. Komplen kami terima dari client kami yang kebetulan memeriksa container, dan menemukan nyamuk nempel di bagian dalam botol yoghurt. Anda bisa bayangkan kalau botol itu diisi, dan kemudian ada yang membuka di indomart/alfamart dan menemukan nyamuk disana. Dan setelah investigasi, dari cctv kami menemukan karyawan tersebut keluar merokok, dan masuk lagi melalui pintu emergency exit yang dia ganjal kayu supaya tidak mengunci. Akibatnya kami harus menarik produksi kami dari sejumlah client karena kontaminasi. Karyawan tersebut pun dipecat. Dan kali ini, asosiasi buruh biarpun datang, tapi ngga macam macam, karena di awal orang yang sama juga ikut tour bersama bu lurah, dan dia tahu kenapa dia harus memakai perlengkapan pengaman lengkap.

Kemudian beberapa hari lalu, asosiasi buruh yang sama kembali berdemo di depan kantor. Mereka tidak meminta menemui HR kami, tetapi hanya orasi yang terdengar lucu. Mereka meminta solidaritas kita di masa pandemi, untuk meninjau ulang karyawan yang dulu pernah melamar. Mereka nerima kok gaji berapa saja. Hahahaha… Masih ada lanjutannya. Kalau ngga bisa karena kapasitas, karyawan yang pernah bekerja juga boleh lah diselip selipin. Mereka juga ikut demo di depan.. WHAT?? Yang rusakin robot, yang buang popmie, yang buka emergency exit yang begitu begitu itu? Hahahahah… Makasiiii…

Lalu, dengan mental seperti itu, mereka mengeluhkan pemerintah? Bu lurah bela belain datang, minta kita hapus beberapa otomatisasi yang bisa dikerjakan buruh, supaya mereka bisa bekerja. Dan pemerintah masih disalahkan? Mereka ngga menghargai usaha bu lurah buat ngasih lapangan kerja buat mereka?

Lowongan kerja dikasih minta macam macam, gaji tinggi, kalau engga ditolak. Kalaupun udah masuk, kerja malas malasan. Kalau ga malas malasan, kerja seenaknya kayak begitu. Yang model kayak gitu, kemudian menyalahkan pemerintah kalau mereka ngga dapet kerja? Sebagian ga mau dikasih kerjaan malah.

Miskin itu mentalitas, bukan uang yang dimiliki. Selama mentalitas nya ingin miskin, selamanya akan miskin. Punya uang pun akan jatuh miskin kembali. Kalau mentalitasnya kaya, jatuh miskin berapa kali pun akan bangkit kembali. Korupsi ataupun engga, ga relevan. Itu mah mental yang mesti dibenahi. Bagi mereka, akan selalu ada hal yang mereka keluhkan. Gaji yang rendah, tempat kerja yang melarang karyawannya, tempat kerja ribet, kurang lapangan kerja, robot, pemerintah korupsi, bahkan SOP yang melarang makan pop mie, atau kewajiban pakai apd, masker dan lainnya. Tidak perlu korupsi, bisa apa saja yang bisa mereka samber untuk menutupi kemalasan mereka. Hanya kebetulan saja isu korupsi sedang seksi.

The winner sees answers in every problem, the loser sees problem in every answers.

Sumber : Quora,  Rudy, seorang CTO di perusahaan multinasional

Selasa, 18 Agustus 2020

Apakah Kritik harus Berujung penjara?


Jerinx SID


Pada dasarnya mengkritik itu boleh saja, kebebasan berpendapat bukan berarti bebas berbicara seenaknya tetap ada norma kesopan-satunan yg wajib dijaga. lalu bisakah kita mengkritik tanpa melanggar norma-norma tersebut jawabannya adalah BISA BANGET, bagaimana caranya? cukup hindari menggunakan kata-kata yg merendahkan atau mudahnya, jangan gunakan kata-kata yg akan membuat anda marah jika kata-kata tersebut di tujukan pada orang tua anda. simple kan?

tenaga kesehatan ada yg tidak bisa memeluk anaknya selama berbulan-bulan, ada yg gagal menikah, bahkan ada yg meninggal. ya benar tenaga kesehatan juga manusia ada saja yg nakal atau melakukan kesalahan, ya mungkin ada perusahaan farmasi yg tidak benar tapi bukan berarti anda bisa ngomong seenaknya menuduh sana sini tanpa bukti. BUKAN HANYA anda yg mengalami kesulitan selama pandemi. semua orang juga ingin hidup normal memangnya enak kerja seharian dengan menggunakan APD?



Nah mengenai kampanye jrx yg terkesan menentang protokol kesehatan di klaim untuk memperjuangkan rakyat kecil. jrx bersuara agar kita tidak perlu takut pada covid 19 tidak perlu menggunakan masker karena masker adalah simbol tirani dll bahkan sempat panas dengan mbok niluh djelantik. jrx berjuang agar warga bisa hidup bebas seperti sebelum pandemi. menurut saya sekilas gerakan ini terkesan heroik dan sangat memihak rakyat kecil padahal gerakan ini justru bisa saja berdampak buruk pada pariwisata Bali.

Bali tentu ingin segera menarik wisatawan untuk berkunjung agar ekonomi segera pulih, nah agar dilirik oleh wisatawan entah itu mancanegara atau wisatawan lokal tentu harus ada jaminan yg dipenuhi, tidak beda jauh dengan menjual barang selain jaminan kualitas tentu harus ada jaminan keamanan.

"VISIT BALI, DON'T WORRY DIJAMIN AMAN KARENA SELURUH STAFF HOTEL, GUIDE, PETUGAS BAHKAN WARGANYA DISIPLIN MENERAPKAN PROTOKOL KESEHATAN"

ATAU

"VISIT BALI, DON'T WORRY TIDAK PERLU TAKUT DENGAN COVID-19 KARENA TINGKAT KEMATIAN HANYA 5%"

tingkat kematian 5% inilah yg paling sering saya dapat jika berdebat dengan mereka yg percaya teori konspirasi entah benar atau tidak saya tidak tau.

dari 2 tagline diatas kira-kira mana yg bisa menarik wisatawan? belum lagi jika Bali mendapat travel warning karena di cap tidak aman. iya pariwisata di buka tapi masalahnya cukupkah jumlah wisatawan yg datang? cukupkah uang yg mengalir masuk? cukupkah tamu yg datang agar setidaknya hotel-hotel bisa membayar gaji pegawainya?


JJ


Polisi Khawatir Jerinx Berulah Lagi, Penangguhan Penahanannya Ditolak

Polisi Khawatir Jerinx Berulah Lagi, Penangguhan Penahanannya Ditolak

Pengajuan penangguhan penahanan Jerinx SID ditolak Polda Bali. Penangguhan penahanan tersebut diajukan oleh keluarga dan kuasa hukum Jerinx SID.

Penolakan penangguhan ini dibenarkan oleh Kabid Humas Polda Bali Kombes Syamsi. Menurut Syamsi dikhawatirkan Jerinx akan mengulangi perbuatannya lagi.

"Ditolak," kata Syamsi saat digubungi detikcom, Selasa (18/8/2020).

Lebih lanjut Syamsi memaparkan alasan penangguhan penahanan Jerinx SID ditolak, yaitu karena dikhawatirkan akan mengulangi perbuatannya lagi.

"Dikhawatirkan akan mengulangi perbuatannya," tambah Syamsi.

Sebelumnya keluarga dan kuasa hukum Jerinx SID melakukan penangguhan penahan ke Polda Bali, Jumat (14/8/2020). Jerinx SID ditahan di rutan Polda Bali terkait ujaran kebencian 'IDI Kacung WHO'.

detik sumber berita

Senin, 17 Agustus 2020

Membuat Polisi Tidur Sembarangan? Siap-Siap Terkena Ancaman Denda Hingga Penjara

Ada yang Membuat Polisi Tidur Sembarangan? Siap-Siap Terkena Ancaman Denda Hingga Penjara, Ini Penjelasannya

Membuat Polisi Tidur Sembarangan? Siap-Siap Terkena Ancaman Denda Hingga Penjara

TRIBUNJUALBELI.COM - Pengendara motor maupun mobil yang ugal-ugalan jadi salah satu musuh besar di jalanan.

Apalagi jalanan tersebut sangat mulus dan tidak berlubang.

Aksi ugal-ugalan seperti ini tak jarang memakan korban baik pengendaranya sendiri atau pengguna jalan yang lain.

Untuk mengatasi aksi ugal-ugalan seperti ini biasanya warga sekitar membuat polisi tidur.

Tujuannya apalagi kalau bukan untuk memperlambat laju kendaraan.

Dengan dibuatnya polisi tidur memang membuat aksi ugal-ugalan pengendara "nakal" lebih berkurang.

Tapi sayangnya banyak polisi tidur yang dibuat tidak sesuai aturan.

Ada yang terlalu besar, terlalu lebar atau terlalu tinggi yang membuat pengguna jalan merasa kesulitan ketika melawati jalanan tersebut.

Tak jarang kaki-kaki kendaraan rusak gara-gara melewati polisi tidur yang tak sesuai aturan tersebut.

Membuat polisi tidur memang tak bisa sembarangan dilakukan.

Bahkan ada aturan tertulis untuk mengatur pembuatan polisi tidur.

Hal ini tertuang dalam peraturan No 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan.

Bagaimana jika polisi tidur dibuat tak sesuai aturan?

Ancamannya bukan main-main!

Hal ini tertera dalam pasal 274 dan 275 dalam peraturan tersebut.

Pasal 274 menyebutkan setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan kerusakan dan atau gangguan fungsi jalan seperti yang dimaksud dalam pasal 28 ayat 1 dapat dipidana penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak Rp 24.000.000.

Sedangkan pasal 275 ayat 1, setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi Rambu Lalu Lintas, Marka Jalan, Alat pemberi isyarat lalu lintas, fasilitas pejalan kaki dan alat pengaman pengguna jalan sebagaimana dimaksud dalam pasar 28 ayat 2 dipidana kurungan paling lama satu bulan dan denda paling banyak Rp 250.000.

Ada juga peraturan lain yang mengatur tentang ukuran serta penempatan polisi tidur.

Hal ini tertuang dalam peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM.3 tahun 1994 Pasal 4.

Nah buat kamu atau lingkungan sekitarmu yang akan membuat polisi tidur harus menaati peraturan-peraturan tersebut.

Niat hati ingin membuat jalanan lebih tertib bisa berujung pidana jika tak menaati peraturan yang ada. (*)

Mengenal Baju Adat Suku Sabu Dalam Pidato Kenegaraan Jokowi

Mengenal Baju Adat Suku Sabu Dalam Pidato Kenegaraan Jokowi
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo mengenakan baju adat Suku Sabu saat membacakan pidato kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR/DPR 2020. Baju adat yang dikenakan Jokowi tampak megah dengan kombinasi warna hitam dan emas.
Suku Sabu merupakan salah satu kelompok etnis masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT). Suku Sabu adalah mereka yang mendiami Pulau Sawu dan Pulau Raijua di NTT.

Mengutip berbagai sumber, baju adat Suku Sabu berbeda pada laki-laki dan perempuan. Untuk laki-laki, baju adat ini terdiri dari kemeja putih lengan panjang dengan selendang tenun yang diselempangkan di kedua bahu sehingga membentuk tanda silang. Atasan itu berpadu dengan bawahan berupa kain sarung tenun khas NTT.


Lihat juga: Jokowi Hadir di Sidang Tahunan MPR Pakai Baju Adat Sabu, NTT
Sebagai pelengkap, kaum laki-laki Suku Sabu mengenakan aksesori ikat kepala berwarna keemasan, perhiasan berupa kalung, dan juga sabuk emas.

Namun, dalam pidato kenegaraan-nya kali ini, Jokowi mengenakan kemeja hitam lengan panjang, agak berbeda dengan 'pakem' baju adat Suku Sabu pada umumnya. Tampak pula kain selempang dengan corak bunga berwarna emas 'melilit' tubuhnya. Lengkap dengan ikat kepala bercorak serupa.

Sementara untuk perempuan, baju adat Suku Sabu umumnya mengenakan kain tenun yang dililit dengan dua buah lilitan hingga berbentuk seperti sarung. Warna atau motif kain tenun akan senada dengan kain selempang yang dikenakan laki-laki.

Tak hanya baju adatnya yang khas, Suku Sabu juga dikenal memiliki salam berupa ciuman hidung. Sekilas, tradisi ini mengingatkan orang akan tradisi suku Maori di Selandia Baru.

Namun, perlu diketahui, ada filosofi mendalam di balik salam ini. Konon, Suku Sabu menganggap hidung sebagai lambang kekerabatan. Tak heran jika mereka kerap menggunakan hidung untuk menyapa siapa pun bahwa orang asing sekalipun.

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hi...egaraan-jokowi