Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) tengah mengambil langkah strategis yang masif dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui program revitalisasi industri pupuk. Dalam gelaran Food Summit 2026 bertajuk "Indonesia Food Safety Urgency: Towards a New Policy Framework," Direktur Operasi PIHC, Dwi Satriyo Annurogo pada Senin (27/4), mengumumkan rencana pembangunan 7 pabrik baru dengan nilai investasi mencapai Rp77 triliun.
Dengan tujuh pabrik baru yang ditargetkan beroperasi secara komersial (Commercial Operation Date) pada 2029, PIHC berupaya meminimalisasi ketergantungan impor sekaligus menjadi pilar vital bagi agenda ketahanan pangan Indonesia di masa depan. Proyek ini juga menjadi momentum penting untuk adopsi teknologi yang lebih modern, sehingga diharapkan mampu menekan potensi kebocoran distribusi, memastikan pupuk bersubsidi tepat sasaran kepada para petani yang berhak, serta menciptakan sistem logistik yang lebih tangguh.
Ketujuh proyek tersebut adalah:
𝟭. 𝗣𝗮𝗯𝗿𝗶𝗸 𝗔𝗺𝗺𝗼𝗻𝗶𝗮-𝗨𝗿𝗲𝗮 𝗣𝗨𝗦𝗥𝗜-𝟯𝗕
Lokasi: Palembang
COD: Kuartal I-2027
Proyek ini dirancang menghasilkan 445.500 ton Amonia per tahun dan 907.500 Urea per tahun.
𝟮. 𝗣𝗮𝗯𝗿𝗶𝗸 𝗡𝗣𝗞 𝗡𝗶𝘁𝗿𝗮𝘁
Lokasi: Cikampek
COD: Kuartal II-2027
Pabrik ini dirancang memproduksi 100.000 ton NPK basis Nitrat per tahun.
𝟯. 𝗣𝗮𝗯𝗿𝗶𝗸 𝗡𝗣𝗞
Lokasi: NPK Phonska VI-Gresik
COD: 2028
Ditargetkan, pabrik ini memproduksi 600.000 ton NPK per tahun.
𝟰. 𝗣𝗮𝗯𝗿𝗶𝗸 𝗦𝗼𝗱𝗮 𝗔𝘀𝗵
Lokasi: Soda Ash Bontang
COD: 2028
Pabrik ini akan menghasilkan 300.000 ton Soda Ash per tahun dan 300.000 ton Amonium Klorida (Am.Chl) per tahun.
𝟱. 𝗣𝗮𝗯𝗿𝗶𝗸 𝗔𝗺𝗺𝗼𝗻𝗶𝗮-𝗨𝗿𝗲𝗮
Lokasi: PIM-III, Lhokseumawe
COD: 2029
Pabrik ini direncanakan mampu menghasilkan 1,115 juta ton Urea per tahun dan 825.000 ton Amonia per tahun.
𝟲. 𝗣𝗮𝗯𝗿𝗶𝗸 𝗔𝗺𝗺𝗼𝗻𝗶𝗮-𝗨𝗿𝗲𝗮
Lokasi: Kawasan Industri Pupuk Fakfak
COD: 2030
Rencananya, pabrik ini akan menghasilkan 1,15 juta ton Urea per tahun dan 825.000 ton Amonia per tahun.
𝟳. 𝗥𝗲𝘃𝗮𝗺𝗽 𝗔𝗺𝗺𝗼𝗻𝗶𝗮
Lokasi: Revamp Ammonia Kaltim-2
COD: 2026
Ditargetkan, pabrik ini menghasilkan 660.000 ton Amonia per tahun.
BACA JUGA :


