Kamis, 06 Agustus 2020

Sejarah Seni Lukis di Bali

Sebagai daerah tujuan wisata terkenal , di Bali terdapat banyak sekali tempat untuk membeli lukisan-lukisan cantik untuk menghias dinding rumah anda. Di sepanjang jalan di Pantai Kuta, Legian dan Seminyak, di Sanur, di Nusa Dua, di Pasar Seni Sukawati, di Pasar Seni Guwang, di toko oleh-oleh khas Bali seperti Kampung Bali atau Krisna, ataupun di obyek-obyek wisata seperti di Tanah Lot terdapat banyak toko yang menjual lukisan-lukisan khas Bali ataupun lukisan modern.
Sejarah Seni Lukis di Bali


Namun bila anda bukan orang yang hanya sekedar memburu lukisan dengan harga murah, namun ingin mengoleksi lukisan-lukisan yang memiliki nilai artistik yang lebih tinggi dengan kualitas yang bagus, maka anda harus meluangkan waktu berburu lukisan di berbagai galeri-galeri lukisan yang ada di desa Batuan, Lod Tunduh, Pengosekan, Peliatan dan Ubud. Di galeri-galeri lukisan tersebut anda dapat melihat karya-karya pelukis Bali yang paling berbakat dari berbagai aliran seni yang ada di Bali, baik itu Gaya Klasik Kamasan, Gaya Klasik Batuan, Gaya Tradisional Ubud, Gaya Tradisional Pengosekan, Gaya Naive atau Young Artist, Gaya Modern, dan karya-karya pelukis Barat atau pelukis Indonesia lainnya yang banyak mengambil tema dari kehidupan masyarakat Bali.

Mula-mula di Bali tidak dikenal lukisan komersial. Yang ada hanyalah lukisan sebagai kesenian sakral, karena semata-mata dipergunakan sebagai hiasan di tempat-tempat pertunjukan, di istana-sitana bangsawan dan di pura-pura, baik itu sebagai umbul-umbul, kober ataupun sebagai langse dan ider-ider. Para seniman tidak menjual lukisan hasil karyanya kepada masyarakat umum, namun hidupnya dijamin oleh keluarga raja dan para bangsawan yang memberinya pekerjaan tetap untuk menghias berbagai istana dan tempat ibadah yang mereka bangun. Bahkan ada satu desa, misalnya Desa Kamasan di sebelah selatan Kota Semarapura atau Klungkung yang hampir seluruh penduduknya berprofesi sebagai pelukis sejak jaman kerajaan dulu hingga sekarang karena mereka dulu memang pelukis-pelukis yang bekerja pada raja Klungkung sehingga ditempatkan secara bersama-sama di desa Kamasan dan selalu dipekerjakan raja untuk menghias istana (puri) dan tempat ibadah (pura) yang dibangun keluarga raja ataupun para bangsawan lainnya.
Sejarah Seni Lukis di Bali


Sejarah Seni Lukis di Bali
Lukisan Gaya Kamasan

Lukisan gaya Kamasan disebut juga Lukisan Gaya Klasik Kamasan karena lukisan gaya ini berasal dari jaman keemasan kerajaan Bali kuno yang belum mendapat pengaruh Eropa ataupun pengaruh luar lainnya. Temanya biasanya berasal dari dongeng tentang kehidupan para dewa, kehidupan kalangan bangsawan dan dongeng-dongeng binatang atau Tantri. Jarang terdapat lukisan klasik tentang kehidupan masyarakat umum. Warna-warnanya biasanya diambil dari warna alam, misalnya untuk warna putih dipergunakan tulang yang dihancurkan, untuk warna hitam dipergunakan arang, untuk warna biru dipergunakan rumput taum, untuk warna merah digunakan babakan kayu Sunti, sedangkan untuk warna kuning diambil dari minyak Kemiri, yang kemudian dicampur dengan perekat sehingga menempel pada kanvas. Lukisan Gaya Klasik Kamasan hanya memakai dua dimensi saja, panjang dan lebar, tidak ada perspektif sehingga jauh dekat tidak terlihat, sedangkan obyek yang dilukis terlihat seperti wayang, datar tanpa sudut pandang (perspektif) ataupun kedalaman.

Sejarah Seni Lukis di Bali
Lukisan Gaya Batuan

Lukisan yang sangat mirip dengan Gaya Klasik Kamasan adalah Gaya Klasik Batuan, bedanya adalah media dan pewarna lukisannya yaitu Gaya Klasik Batuan biasanya memakai kertas untuk media menggambar, dan sebagai pewarna mereka biasanya memakai tinta cina karena yang sangat ditonjolkan adalah efek berlawanan antara terang-gelap. Sekarang selain tinta cina juga banyak dipakai warna lain selain hitam putih. Ciri lainnya adalah lukisan ini sangat mengutamakan detail-detail sampai yang sekecil-kecilnya sehingga terkesan sangat rumit membuatnya. Lukisan Gaya Klasik Batuan biasanya melukiskan ceritra-ceritra rakyat Bali, dongeng-dongeng rakyat dan semacamnya sehingga membutuhkan pemahaman tentang kepercayaan rakyat Bali untuk memahami tema lukisannya. Walaupun demikian, para pelukis muda seperti I Made Budi, banyak menggambar di luar pakem tradisional, bahkan tema-tema yang sangat up-to date dilukisnya seperti turis main surfing di laut, kedatangan Presiden Ronald Reagan di Bali, dan yang lainnya.

Setelah Bali dikuasai oleh Belanda pada tahun 1908, para ilmuwan dan para seniman Barat berdatangan ke Bali atas undangan Raja Ubud, Cokorda Sukawati, yang sangat menyukai kesenian, di antaranya para pemusik, para perancang tari, para penulis dan para pelukis. Raja Ubud ini mengundang seniman-seniman barat yang dikenalnya untuk datang dan menetap di Ubud. Beberapa di antaranya diberinya hadiah tanah untuk membangun studio dan rumah, misalnya Walter Spies, seniman lukis-musik asal Jerman yang datang pada tahun 1920, membangun rumahnya di Hotel Campuhan saat ini, bertingkat dua dengan kolam renang dengan pemandangan indah ke Sungai Campuhan. Miguel dan Rosa Covarrubias dari Meksiko, datang dan menetap di Bali sejak 1930. Mereka menulis buku The Island of Bali yang hingga kini masih menjadi acuan semua buku tentang Pulau Bali. Rudolf Bonnet dan Adrian Le Mayeur dari Belgia datang bergabung kemudian. Pada tahun 1936 mereka mendirikan organisasi para seniman Pita Maha bersama I Gusti Nyoman Lempad, I Sobrat dan I Tegalan. Tujuan organisasi ini adalah untuk meningkatkan mutu karya para seniman Bali (ada 100 anggota saat itu) dan membantu menjualkan karya-karya mereka kepada pencinta-pencinta seni di barat. Lebih banyak seniman barat datang ke Bali: Theo Meier dari Swiss, anthropolog Jane Belo dari Amerika Serikat, pemusik Colin McPhee yang bekerjasama dengan Anak Agung Gede Mandra dari Peliatan dalam melakukan eksperimen-eksperimen baru dalam musik. Hans Snell meninggalkan ketentaraan Belanda, menikahi Siti, dan menetap di Ubud. Begitu pula Antonio Blanco, pelukis asal Catalunya, Spanyol-lahir di Filipina, yang menikahi modelnya, Ni Ronji, dan kemudian menetap di Ubud.

Kedatangan para seniman Barat tersebut banyak mempengaruhi gaya lukisan yang muncul sejak tahun 1930 di Bali, yang kemudian kita kenal sebagai Gaya Tradisional Ubud dan Gaya Tradisional Pengosekan. Tema yang diusung sudah menyentuh rakyat biasa ataupun peristiwa-peristiwa kehidupan sehari-hari, misalnya suasana di sebuah pasar desa, upacara keagamaan di pura, pekerjaan petani di sawah, dan yang semacamnya. Warna-warna yang dipakai adalah warna-warna modern buatan pabrik dengan berbagai macam warna. Lukisan yang dihasilkan merupakan lukisan tiga dimensi yang sudah memperhitungkan perspektif. Para pelukis terkenal Gaya Tradisional Ubud di antaranya adalah Anak Agung Made Sobrat dan I Dewa Nyoman Batuan.

Pada tahun 1950-an, seorang pelukis Belanda, Arie Smith, mulai mengajak anak-anak petani asal Desa Penestanan untuk melukis setelah mereka kembali dari bekerja di sawah. Mereka dibebaskan untuk melukis menurut ide mereka masing-masing memakai warna-warna yang mereka sukai. Hasil karya mereka kemudian dikenal sebagai Gaya Lukisan Young Artists atau Naive, dengan ciri khas imajinasi anak-anak yang masih lugu, memenuhi bidang gambar tanpa banyak mementingkan kedalaman ataupun perspektif, dengan warna-warna yang kontras dan berani. Tokoh-tokohnya di antaranya I Cakra dan I Ketut Soki.

Sekarang ini juga terdapat Institut Seni Indonesia (ISI) di Jogjakarta dan di Denpasar sehingga banyak meluluskan pelukis-pelukis intelek yang banyak menghasilkan gaya-gaya lukisan baru, yaitu Gaya Modern atau Kontemporer, baik itu aliran Realis, Surrealis, Impresionis, dan yang lain-lainnya. Banyak yang tetap mengusung tema tradisional namun dilukis dengan gaya modern, misalnya pelukis I Nyoman Gunarsa dari Klungkung.

Sejarah Seni Lukis di Bali

Misteri hilangnya koloni Roanoke


Seorang penjelajah dari Inggris, Sir Walter Raleigh, mencoba mendirikan koloninya yang bernama Roanoke tahun 1585. Bersama John White, koloni tersebut dibangun di sebuah daerah yang saat ini termasuk dalam Dare County, Carolina Utara, Amerika Serikat.

Koloni yang terdiri dari 112-121 orang itu hidup dengan kekurangan suplai makanan, amunisi, dan pakaian. Mereka juga mempunyai hubungan yang tidak baik dengan suku asli Amerika  di sana. Kepala daerah Roanoke, gubernur Ralph Lane, menunggu kedatangan suplai untuk koloni yang dibawa dari Inggris. Namun karena tidak kunjung tiba, Lane meninggalkan koloni dan kembali ke Inggris tahun 1586. Roanoke pun ditinggalkan tanpa kehadiran pemimpinnya baik Raleigh maupun Lane.

Raleigh kemudian memerintahkan White yang sedang dalam misi kolonisasi berikutnya di AS, untuk membawa lebih banyak suplai ke Roanoke pada tahun 1588 setelah tugasnya selesai. Namun White bersikeras untuk kembali ke Roanoke sebelum waktu yang ditentukan. Ketika tiba di Roanoke tahun 1587, White tidak menemukan siapa-siapa.

Daerah koloni Roanoke dibentengi namun diabaikan begitu saja tanpa ada tanda-tanda perang dengan kelompok lain atau penyerahan diri karena kalah perang. Tidak ada bukti-bukti kepindahan, tidak ada mayat, ataupun makam yang ditemukan. Jadi disimpulkan bahwa orang-orang Roanoke pergi dalam keadaan hidup.

Yang White temukan hanyalah sebuah pahatan di patok kayu yang bertuliskan “Croatoan”. Sebelum pergi, White berpesan pada warga Roanoke agar meninggalkan pesan berupa salib Maltese di sebuah pohon apabila mereka terancam. Akan tetapi karena White tidak menemukan salib tersebut, ia berasumsi bahwa tulisan “Croatoan” pada kayu itu sebagai tanda bahwa koloni pindah ke Pulau Croatoan di sekitar sana.

White berencana mengikuti petunjuk ini namun karena terhalang kecelakaan kapal, misi pencarian tersebut dibatalkan. Sejak saat itu tidak diketahui lagi apa yang terjadi pada koloni Roanoke dan berbagai dugaan menjadi populer di masyarakat.

-Loner The Hunter-

RUU CIPTA KERJA MESTINYA ADA SEJAK LAMA

Pengamat ekonomi-politik Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri menilai Rancangan Undang-undang (RUU) Cipta Kerja seharusnya sudah dibuat pemerintah sejak beberapa tahun lalu. Pasalnya, regulasi itu fokus meningkatkan iklim investasi di Indonesia.

"Itu memang sebenarnya sudah keharusan yang seharusnya Indonesia sudah lakukan sejak bertahun-tahun yang lalu," kata Yose, Jumat (31/7).

Ia mengatakan investasi menjadi masalah yang belum bisa diselesaikan sejak beberapa tahun belakangan ini. Kondisi ini bukan hanya dari negara lain yang tidak ingin masuk tetapi juga investor dalam negeri.

Menurutnya, salah satu permasalahan yang menghambat investasi adalah tumpang tindih peraturan dan kewenangan pemerintah pusat-daerah, perizinan berbelit, hingga tenaga kerja.

Oleh karena itu, kata Yose, pemerintah memerlukan langkah cepat untuk melakukan reformasi kebijakan untuk memperbaiki iklim investasi melalui pembuatan RUU Cipta Kerja.

"Makanya perlu dilakukan secara langsung, secara komprehensif. Ini adalah ide dari Omnibus Law Cipta kerja tersebut," ujarnya.

Yose menyebut sejumlah pihak seharusnya tidak mempermasalahkan RUU Cipta Kerja karena tujuan pembuatan regulasi itu untuk meningkatkan investasi.

Selain itu, Yose mengatakan RUU Cipta Kerja selama ini kerap dianggap menguntungkan dunia usaha dan merugikan tenaga kerja. Padahal, menurutnya, dunia usaha dengan tenaga kerja satu sama lain saling membutuhkan.

"Jadi kadang-kadang banyak yang mendikotomikan seakan-akan ini bertentangan satu sama lain. Saya pikir itu enggak seperti itu kondisinya," katanya.

Yose justru menyatakan RUU Cipta Kerja akan menguntungkan masyarakat yang tengah mencari kerja di tengah pandemi covid-19. Menurutnya, banyak masyarakat yang membutuhkan pekerjaan saat ini.

"Ada jutaan orang yang belum masuk pasar tenaga kerja yang membutuhkan reformasi," pungkasnya. [Media Indonesia]

Rabu, 05 Agustus 2020

AKANKAH JERINX BERNASIB SEPERTI JONRU?


Oleh: Birgaldo Sinaga

Siapa yang tak kenal Jonru. Pria yang berjuluk lelaki di balik jendela ini adalah ikon dari haters Jokowi sedunia.

Tulisannya penuh dengan pemutarbalikkan fakta. Isinya lebih banyak nyinyiran yang menyerang pribadi Jokowi.

Jonru menjadi kanal  kemarahan dan kebencian kelompok pembenci Jokowi. Setiap tulisan dan cuitan Jonru menjadi wahana dari pembenci Jokowi untuk menghujat dan mencaci maki.

Soal kedatangan Jokowi ke Arab Saudi bertemu Raja Salman misalnya. Ada crane roboh dekat Mesjidil Haram. Banyak korban tewas. 

Jonru dengan cepat berhalusinasi bahwa crane roboh karena kedatangan Jokowi. Membawa sial. Kontan jutaan followernya ngakak mabuk ketawa guling2 bahagia membaca postingan Jonru.

Jonru melambung tinggi dengan aplaus dan puja puji followernya yang mencapai 1.5 juta followers. Buanyak sekali.

Hingga suatu hari, Jonru tersandung batu. Brakkk...ia kena batunya. Saat berdebat dengan Akbar Faisal di ILC pada 28 Agustus 2017.

"Jokowi merupakan Presiden yang belum jelas siapa orangtuanya. Sungguh aneh, untuk jabatan sepenting presiden, begitu banyak orang yang percaya kepada orang yang asal muasalnya serba belum jelas," ujar Akbar membacakan postingan yang tertera di ponsel miliknya.

Jonru mengakui bahwa tulisan yang dibacakan Akbar Faisal itu adalah tulisannya.

"Saya minta kepada pak polisi, disaksikan seluruh orang Indonesia, tolong diproses manusia ini," ujar Akbar sambil menunjuk Jonru.

Kemudian, Jonru berteriak lantang.

"Saya tidak takut. Silakan diproses!" ujar Jonru sambil mengacungkan tangan kirinya ke atas.

Sejarah mencatat akhirnya Jonru dipenjara akibat tulisan ngawurnya itu.

Kemarin seleb kontroversial Jerinx mangkir dari panggilan polisi. Jerinx dalam berita di Kumparan diberitakan meminta maaf atas unggahannya yang menyebut Ikatan Dokter Indonesia kacung WHO. 

Belum ada bantahan Jerinx atas berita permintaan maaf yang menurut pengikutnya itu hoax. Biasanya Jerinx seperti petir halilintar jika ada berita hoax tentang dirinya. 

Laporan IDI atas tulisan Jerinx yang menyebut IDI kacung WHO tidak bisa dianggap enteng. Ada konswekensi hukum. Hukum bukan adu bacot siapa yang paling kencang. Hukum bukan bicara follower siapa yang lebih banyak. 

Hukum bukan bicara adu gertak caci maki siapa yang paling keras. Hukum bicara pasal2 apakah memenuhi unsur pelanggaran atau tidak. 

Saya bukanlah anti Jerinx. Sama seperti Mbok Niluh Djelantik teman saya. Sama2 prihatin dengan kondisi situasi pandemi ini. 

Saya juga melakukan apa yang bisa saya lakukan untuk banyak orang yang terdampak. Membagikan sembako. Melakukan penyemprotan disenfektan ke publik area. Tidak pergi ke luar kota. Menjauhi kerumunan. 

Sayangnya Jerinx membuka front permusuhan kebanyak pihak dengan membabi buta. Mbok Niluh yang berwelas asih dengan sesama juga jadi korban keganasan Jerinx. Di lapak IGnya mbok Niluh habis digilas oleh follower Jerinx. Macam2 hujatan mereka. 

Jerinx menabrak siapapun yang berbeda pikiran dengannya. Tidak peduli sesama pejuang dari kalangan bawah. Tidak peduli rakyat biasa. Padahal orang yang ditabraknya itu adalah orang2 yang punya getaran yang sama dengannya. Sama2 peduli pada orang susah. 

Jerinx sama seperti Jonru. Menikmati gegap gempita tepuk tangan dari followernya. Ia melambung tinggi dengan puja puji dari mereka yang marah pada keadaan ini. 

Jerinx menjadi kanal  mengekspresikan kekesalan situasi ini. Marah2 pada situasi yang membuat periuk nasi terancam. Padahal semua sedang terancam. Termasuk Mbok Niluh, saya, kamu dan jutaan orang lainnya.

Polisi telah mengirimkan panggilan kedua pada Jerinx. Panggilan yang secara hukum suka tidak suka mau tidak mau harus dihadapi oleh Jerinx. Jika masih mangkir maka Jerinx akan dijemput paksa.

Akankah Jerinx bernasib seperti Jonru? Akankah sejuta follower Jerinx bisa menyelamatkannya? 

Akankah jutaan follower Jerinx mau pasang badan membela Jerinx? 

Akankah Jerinx dengan segala kepongahannya selama ini terus menggetarkan jiwa para pengagumnya?

Kita lihat saja seperti apa ending tetabuhan gendang yang ditabuh Jerinx.

Salam perjuangan

Birgaldo Sinaga

Selasa, 04 Agustus 2020

Menyingkap Fenomena Ateisme di Negara-negara Timur Tengah

Masih ingat Waleed al-Husseini yang akun facebooknya diberi nama “Ana Allah” dan membuat geger dunia? Ada cukup banyak orang-orang di Timur Tengah memilih “bercerai” dengan agama lamanya.

Menyingkap Fenomena Ateisme di Negara-negara Timur Tengah
Blogger Palestina Walled al-Husseini

Waleed al-Husseini, seorang pemuda sarjana IT dari kota Qalqilya, Palestina, suatu saat pernah membuat geger otoritas dan publik Palestina gegara membuat akun Facebook dengan "mengatasnamakan” Tuhan. Akun itu diberi nama dalam Bahasa Arab, "Ana Allah” yang berarti "Saya Tuhan”. Di akun Facebook ini, ia membuat sejumlah lelucon atau menulis postingan yang bersifat menertawakan atau memparodikan Tuhan, agama, para nabi, dan Kitab Suci.

Dalam akun itu, Waleed mengumumkan sambil bergurau bahwa Tuhan, di masa datang, akan berkomunikasi langsung kepada makhluk-Nya lewat Facebook karena para nabi dan rasul yang dikirim-Nya berabad-abad silam gagal total dalam menyampaikan pesan-pesannya kepada umat manusia.

Dan benar, Waleed (yang berakting sebagai Tuhan) misalnya memposting di Facebook tentang larangan orang meminum whisky yang dicampur Pepsi sambil menyerukan mereka untuk mencampur dengan air. Ia juga menganjurkan orang untuk merokok hashish atau hash (semacam marijuana). Kalimat-kalimat dalam postingannya dibuat atau dimirip-miripkan dengan ayat-ayat dalam Al-Qur'an atau Kitab Suci lain.

Postingan-postingan Waleed mungkin membuat sebagian orang tertawa dan terpingkal-pingkal tetapi tidak untuk polisi. Berbeda dengan George Carlin, seorang komedian, aktor, dan kritikus sosial di Amerika, yang leluasa membuat lelucon tentang Tuhan dan hal-ikhwal yang berkaitan dengan komunitas agama, Waleed justru digelandang oleh pihak otoritas Palestina. Hanya selang beberapa hari setelah ia memosting di akun Facebook, sejumlah polisi membekuknya saat ia sedang bermain kartu di sebuah kafe. Ia pun mendekam berbulan-bulan di penjara.

Menyingkap Fenomena Ateisme di Negara-negara Timur Tengah

Kisah Waleed ini diceritakan oleh Brian Whitaker dalam bukunya yang berjudul Arabs without God: Atheism and Freedom of Belief in the Middle East. Beberapa bulan sebelum membuat akun atas nama Tuhan di Facebook, Waleed juga membuat beberapa blog dengan nama "Nur al-Aql” (Cahaya Akal) dan "Proud Atheist” untuk mengekspresikan "kegelisahan teologis” dan "pemberontakan intelektual” yang melanda dirinya.

Waleed tidak sendirian. Ada cukup banyak orang-orang di Timur Tengah, baik yang beragama Islam maupun non-Islam, yang emoh dan memilih "bercerai” dengan agama lamanya kemudian menjadi ateis (atau agnostik, sekularis, dan freethinker).

Lara Ahmed, seorang mahasiswi biologi di University of Babylon, Irak, seperti ditulis oleh Gilgamesh Nabeel di The Washington Times, juga memilih menjadi ateis. Tetapi berbeda dengan Waleed yang "memberontak” dan terang-terangan mendeklarasikan diri keateisannya, Lara memilih diam-diam dan menyembunyikan "keyakinan” barunya. Meskipun "memeluk” ateisme, Lara tetap berhijab. Ia memilih tetap berhijab karena kalau tidak memakai hijab, banyak orang melecehkannya.

Lantaran tetap berhijab dan menyembunyikan ateismenya itulah Lara selamat dari hukuman: baik hukuman negara maupun "hukuman sosial” dari masyarakat. Ini berbeda dengan Waleed diatas atau Kacem El Ghazzali yang pernah dilempari batu warga dan dikutuk oleh imam di kampungnya di Maroko hanya karena menulis dan memosting tentang sekularisme dalam blognya.

Cerita yang kurang lebih sama juga menimpa Alber Saber, seorang warga Mesir yang meninggalkan Kristen Koptik dan memilih menjadi ateis. Ia pernah dipenjara karena memosting hal-hal yang dianggap sebagai anti-agama. Oleh pihak otoritas Mesir, ia pernah dituduh mengfitnah Islam dan Kristen, melecehkan nabi-nabi, menghina wahyu dan ketuhanan, serta memparodikan ritual-ritual keagamaan.


Tersebar di seantero Timur Tengah

Menyingkap Fenomena Ateisme di Negara-negara Timur Tengah

Kasus-kasus di atas hanyalah sekelumit contoh saja tetang fenomena ateisme dan kelompok ateis di kawasan Timur Tengah masa kini. Tidak ada statistik yang pasti tentang berapa jumlah kaum ateis atau "non-agama” di kawasan ini. Tetapi lembaga Dar Al Ifta di Mesir pernah melakukan survei dan polling tentang warga Arab yang mengidentifikasi diri sebagai ateis, dan hasilnya cukup mengejutkan. Ada ribuan orang Arab yang mengidentifikasi diri sebagai ateis atau "nonbelievers” dan tersebar di seantero Timur Tengah: Mesir, Maroko, Tunisia, Irak, Saudi, Yordania, Suriah, Sudan, Libya, Yaman dan sebagainya.

Rabab Kamal, seorang aktivis Mesir, bahkan pernah mengatakan, seperti dikutip oleh Ahmed Benchemsi dalam artikelnya, "Invisible Atheists: the Spread of Disbelief in the Arab World” yang diterbitkan oleh New Republic, kalau di Universitas Al-Azhar saja ada ribuan kaum ateis dan sekularis yang tidak mau terang-terangan mendeklarasikan diri keateisan dan kesekulerannya. Sejarawan Mesir Hamed Abdel-Samad bahkan menduga setiap keluarga di Mesir ada seorang ateis atau sekularis atau minimal kritikus agama. Hanya saja, menurutnya, mereka tidak berani berterus-terang di publik karena takut dihukum.

Ahmed Benchesmi, editor-in-chief FreeArabs.Com pernah mengsurvei akun pengguna Facebook di Timur Tengah, baik dalam Bahasa Arab maupun Bahasa Inggris, dan menurutnya ada lebih dari 250 grup atau pages yang masing-masing anggotanya bervariasi dari ratusan hingga sebelas ribuan.

Perlu dicatat bahwa fenomena perkembangan kaum ateis ini bukan hanya terjadi di kalangan masyarakat Arab Timur Tengah saja tetapi juga Iran. Di negeri para mullah ini tercatat ada ratusan ribu warganya (sekitar 0,3 persen dari total penduduk Iran) yang mengasosiasikan diri sebagai non-agama seperti pernah dilaporkan oleh Statistical Center of Iran tahun 2011. Di Iran, kaum ateis bahkan memiliki lembaga atau jaringan kelompok ateis.



Kenapa beberapa kalangan masyarakat Arab memilih menjadi ateis?

Menyingkap Fenomena Ateisme di Negara-negara Timur Tengah

Bagi banyak orang, fenomena ini bisa jadi dianggap sebagai sebuah anomali atau penyimpangan. Mereka beranggapan atau berimajinasi bahwa orang Arab itu diasumsikan sebagai Muslim atau bahkan fanatikus agama. Meskipun sebetulnya realitasnya sangat kompleks karena selain Muslim, ada jutaan masyarakat Arab Kristen, Yahudi, Druze, Yazidi atau Mandean. Sebagai Muslim pun mereka sangat warna-warni: Sunni, Syiah, Salafi, Wahabi, Zaidi, Ismaili, Sufi, Alwai, Ibadi dan masih banyak lagi. Munculnya kaum Arab ateis, semakin menambah daftar pluralitas dan kompleksitas masyarakat Arab di Timur Tengah.

Tentu saja tidak ada yang salah kalau warga Arab memilih menjadi ateis. Sebagai sebuah kelompok etnis, tidak ada bedanya antara Arab dan Persi, Cina, Jepang, Jerman, Rusia, India, Melayu, Jawa dan lainnya. Yang salah adalah mereka yang menganggap atau mengimajinasikan bahwa Arab = Muslim. Hal ini sama konyolnya dengan anggapan atau imajinasi bahwa Melayu = Muslim, Cina = Konfusius, India = Hindu, Jepang = Sinto, Amerika = Kristen, Rusia = ateis, dan seterusnya.

Sebagai sebuah "pandangan dunia”, ateisme tentu saja bersifat lintasetnis, masyarakat dan budaya. Siapa saja, dari etnik dan suku-bangsa manapun, boleh menjadi ateis dan mempercayai ateisme, sebagaimana siapa saja boleh menjadi teis dan meyakini teisme.

Seperti perkembangan kaum ateis di kawasan non-Arab atau diluar Timur Tengah, khususnya di negara-negara Barat, ada berbagai alasan yang dianggap mendasar kenapa sebagian masyarakat Arab berubah menjadi ateis atau pemeluk ateisme. Tetapi tragisnya, oleh pihak pemegang otoritas politik atau masyarakat umum di Timur Tengah, kelompok ateis sering kali atau bahkan selalu dicurigai sebagai "agen Zionis”, "antek Barat”, atau "intel komunis” yang disusupkan di Timur Tengah untuk merusak umat Islam. Padahal, aktivis Komunis Arab juga ikut-ikutan melarang ateisme karena mereka mengadopsi Komunisme sebagai strategi gerakan politik-ekonomi saja, bukan yang berbau teologi-keagamaan.

Seperti dituturkan dalam buku Arabs without God dan sejumlah karya akademik sejenis yang mengulas tentang sejarah dan perkembangan kontemporer ateisme di Timur Tengah, masyarakat Arab (dan mana saja) menjadi ateis karena ada sejumlah alasan atau faktor yang sangat mendasar, baik faktor atau alasan yang bersifat personal-internal atau sosial-eksternal.

Misalnya, seperti yang diekspresikan oleh sejumlah kelompok ateis dan eks-umat beragama, tentang ketidakmampuan doktrin-doktrin agama dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental filosofis-ilmiah (misalnya mengenai asal-usul manusia dan alam semesta); adanya sejumlah doktrin, ajaran dan teks-teks keagamaan yang dianggap tidak logis dan scienfitic (seperti gambaran atau image tentang Tuhan yang dianggap membingungkan dan kontradiktif); atau pengalaman-pengalaman individu atau menyaksikan kejadian atas orang lain yang sangat menakutkan dan traumatik (misalnya menyaksikan kekerasan, kekejaman, terorisme, diskriminasi, intimidasi, pemerkosaan, dan lain-lain) yang dilakukan oleh sejumlah kelompok ekstrimis agama. Semua itu, antara lain, menjadi faktor penting yang mendorong pengikut agama kemudian memilih cerai dari agama mereka.

Fenomena ateisme di masyarakat idealnya harus disikapi secara dewasa dan ilmiah oleh kaum teis atau umat beragama, bukan malah dihadapi dengan hukuman, kecaman, atau kutukan. Munculnya kaum ateis juga bisa dijadikan sebagai kritik internal sekaligus tantangan untuk mengembangkan agama yang lebih ilmiah, rasional, beradab, manusiawi, modern dan memperhatian kemajuan zaman, agar umat beragama tetap betah tinggal di dalamnya. Semoga bermanfaat.



Penulis: Sumanto Al Qurtuby (ap/vlz)
Dosen Antropologi Budaya di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Dhahran, Arab Saudi. Ia pernah menjadi fellow dan senior scholar di berbagai universitas seperti National University of Singapore, Kyoto University, University of Notre Dame, dan University of Oxdord. Ia memperoleh gelar doktor (PhD) dari Boston University, Amerika Serikat, di bidang Antropologi Budaya, khususnya Antropologi Politik dan Agama. Ia menulis lebih dari 18 buku, ratusan artikel ilmiah, dan ribuan esai popular baik dalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia yang terbit di berbagai media di dalam dan luar negeri. Bukunya yang berjudul Religious Violence and Conciliation in Indonesia diterbitkan oleh Routledge (London & New York) pada 2016. Manuskrip bukunya yang lain, berjudul Saudi Arabia and Indonesian Networks: Migration, Education and Islam, akan diterbitkan oleh I.B. Tauris (London & New York) bekerja sama dengan Muhammad Alagil Arabia-Asia Chair, Asia Research Institute, National University of Singapore.

Sumber

KERJA KERAS MENGHALAU KRISIS


Uni Eropa resmi mengumumkan ekonominya mengalami krisis. Di Asia, Singapura dan Korea Selatan sudah lebih dulu mengibarkan bendera krisis. Dua kuartal berturut-turut ekonomi mereka minus. 

Negara-negara itu memang sektor perdagangannya tinggi. Ekspor-impor cukup dominan. Jadi ketika permintaan dunia lesu, otomatis ekonomi mereka kena imbas parah. Pertumbuhan langsung minus.

Berbeda dengan Indonesia yang sebagian ekonominya ditopang belanja rumah tangga. Aktivitas domestik lebih dominan. Meski demikian, pada kuartal kedua tahun ini, pertumbuhan ekonomi kita juga sudah minus sih. Angkanya tidak separah Singapura atau Korsel. 

Karena itu juga salah satu jalan untuk menyelamatkan ekonomi adalah dengan mempertahankan daya beli. Rakyat dikasih bantuan tunai. Subsidi listrik. Sembako. Penjaminan kredit bagi usaha padat karya. Dan sebagainya.

Kita membaca kekecewaan Presiden ketika mengetahui serapan anggaran masih rendah. Sebab serapan anggaran itu justru diharapkan menjadi penahan krisis. Meski belanja pemerintah porsinya hanya 9% dari PDB, tapi saat seperti ini akan sangat berpengaruh pada perputaran roda ekonomi.

Seluruh pemerintahan di dunia sedang mengasah otak untuk keluar dari hisapan lumpur hidup krisis ini. Covid19 belum ada vaksinya. Ekonomi juga butuh bergerak. Dua fokus yang tidak mudah bagi semua pemerintahan di dunia.

Makanya Presiden Jokowi berkali-kaki mengebrak-gebrak bawahannya. Para menteri dibombardir dengan tuntutan kerja lebih keras. Sebab kita sedang menghadapi tsunami dasyat. Dunia sedang demam. Kerja harus lebih serius.

Mestinya menteri-menteri juga menyadari skala persoalan di hadapannya. Mereka semua bertanggungjawab pada anggaran kementeriannya. Jangan sampai mandeg. Kalau mandeg sama saja tidak membantu melancarkan sirkulasi darah di tubuh perekonomian. Apalagi kalau mandegnya karena keribetan birokrasi.

Bukan hanya di level kementerian. Suasana bathin bahwa di depan muka kita ada krisis, juga harus dipahami semua kepala daerah. Sebentar lagi mungkin pajak daerah akan jauh menyusut. Karena dunia usaha yang stagnan. Ini akan berakibat lambannya gerak pemerintahan. 

Artinya, kepala daerah juga harus putar otak agar wilayah mereka gak kolaps. Masa penghasilan daerah cuma bisa bayar gaji doang. Lantas buat masyarakatnya mana?

Untuk jangka pendek, program bantuan memang bisa menahan gempuran krisis. Tapi gak bisa diharapkan punya daya tahan lebih panjang. Langkah jangka panjangnya juga harus diperhatikan. Agar ekononi bergerak. Agar pajak maksimal lagi. Agar di daerah pembangunan semarak lagi.

Artinya dunia usaha harus didorong lebih semarak. Caranya, mereka jangan diribetin. Jangan dibebankan dengan kerepotan izin dan urusan tetek bengek. Seluruh energi pemerintah dan orang yang sadar kondisi harus bahu-membahu menciptakan suasana bisnis yang jauh lebih mudah.

Jadi ada dua faktor penting. Pertama adalah orangnya. Kualitas pengambil kebijakannya. Mau menteri, kek. Mau kepala daerah, kek. Sepanjang di tangannya ada tanggungjawab anggaran dan melaksanakan aturan, mereka harus punya skala prioritas.

Jika menteri gak kapabel dalam suasana seperti ini, ya reshuffle. Jika kepala daerah, masih petantang petenteng dalam suasana kayak gini, tegur keras. 

Yang kedua, yang juga sanga ppenting adalah deregulasi perizinan usaha. Agar para pengusaha makin mudah menjalankan bisnisnya. Agar investor makin tertarik masuk ke Indonesia. Agar ekonomi bergerak lagi.

Sepertinya RUU Ciptakerja adalah salah satu jawaban untuk menghindari Indonesia terjerembab krisis. Tapi, kenapa masih ada yang menentang?

Yups. Para penentang RUU Ciptakerja, sepertinya lebih suka kita porak poranda diterkam tsunami ekonomi. Mereka gak peduli dengan masa depan bangsa ini. Yang mereka pikirkan, bagaimana caranya mengacau!

10 Fakta hoax tentang babi

Bagi muslim babi haram. Bagiku daging yg lezat.
Makan daging babi bukanlah kejahatan.



1. Babi tidak memiliki leher, sehingga tak mungkin dipotong untuk dimakan.

Salah. 
Secara biologis babi mempunyai leher, pada kerangka babi terdapat cervical vertebrae yang tidak lain tidak bukan adalah tulang leher.

2. Kantung urine babi sering bocor, sehingga urine babi merembes ke dalam daging, sehingga menjijikan untuk dimakan.

Salah. 
Kalau karena terkena urine menjadikan daging menjijikan untuk dimakan, maka bagian-bagian seperti usus, hati, serta kelamin sapi atau kambing juga menjijikan untuk dimakan. Usus dilewati kotoran setiap harinya, hati menjadi tempat penyaringan darah dari penyakit-penyakit, dan juga kelamin dilewati urine setiap hari, namun tidak satupun bagian dari sapi atau kambing dan juga hewan lainnya yang dilarang untuk dikonsumsi.

3. Babi memakan kotorannya sendiri.

Salah. 
Babi tidak memakan kembali kotorannya sendiri, kecuali terpaksa, misalnya disebabkan tidak adanya makanan. Memakan kembali kotorannya sendiri adalah cara untuk bertahan hidup. Sapi pun kalau terpaksa akan memakan kembali kotorannya sendiri. Lagipula memakan kotoran bukan berarti menyerap kotoran tersebut dan menyebarkannya ke seluruh jaringan tubuh, tetap saja hanya nutrisi dan zat-zat lainnya yang tersisa yang diserap tubuh.

4. Kulit orang yang memakan babi akan mengeluarkan bau yang tidak sedap.

Salah. 
Orang-orang yang memakan babi tidak ada bau khas pada diri mereka.

5. Cacing pita merupakan penyakit yang sangat berbahaya yang dapat terjadi karena mengonsumsi daging babi.

Salah. 
Cacing pita tidak hanya terdapat pada babi, namun juga pada ayam, sapi, kambing, kerbau, dan hewan-hewan ternak lainnya. Taenia saginata berasal dari daging sapi, Taenia solium berasal dari daging babi, dan Diphyllobothrium latum berasal dari ikan. Proses pemasakan yang benar menghilangkan resiko terinfeksi cacing pita.

DAPATKAN PENGHASILAN TAMBAHAN MINIM RESIKO KLIK DISINI

6. Daging babi merupakan penyebab utama kanker anus & kolon.

Salah. 
Kanker anus disebabkan oleh infeksi human papilloma virus (HPV), merokok, dan lemahnya imunitas tubuh. Beberapa faktor seperti genetik dan diet mempengaruhi munculnya kanker kolon.

7. Beberapa bibit penyakit mengerikan dibawa babi, seperti Cacing pita (Taenia solium), Cacing spiral (Trichinella spiralis), Cacing tambang (Ancylostoma duodenale), Cacing paru (Paragonimus pulmonaris), Cacing usus (Fasciolopsis buski), Cacing Schistosoma (japonicum), Bakteri Tuberculosis (TBC), Bakteri kolera (Salmonella choleraesuis), Bakteri Brucellosis suis, Virus cacar (Small pox), Virus kudis (Scabies), Parasit protozoa Balantidium coli, Parasit protozoa Toxoplasma gondii.

Salah.
Taenia solium akan mati dengan cara memasak daging babi sampai matang. Trichinella spiralis juga terdapat pada kuda, juga akan mati setelah melalui proses pemasakan yang benar.

Ancylostoma duodenale sangat jarang ditemukan pada tubuh babi, lebih sering ditemukan di tempat-tempat kotor.

Paragonimus pulmonalis adalah kasus yang jarang pada manusia, cacing ini lebih sering menyerang kucing.

Fasciolopsis buski menyerang babi dan manusia yang memakan tanaman air yang terinfeksi cacing ini. Memasak daging babi dengan benar sudah cukup untuk membunuh cacing ini.

Schistosoma japonicum ditemukan di perairan air tawar, bukan pada babi, dan ditularkan oleh siput yang berada di air.

Mycobacterium tuberculosis tidak disebarkan oleh babi, melainkan dari manusia ke manusia lainnya melalui udara, seperti ketika batuk dan bersin.

Salmonella choleraesuis menyerang semua hewan ternak, sapi, kambing, domba, babi, dan ayam. Salmonella paling tinggi terdapat pada ayam dan telur.

Brucellosis suis terdapat pada babi, sapi, domba, dan kambing.

Smallpox tidak disebarkan oleh binatang, melainkan oleh sesama manusia.

Sarcoptes scabiei tidak menular melalui binatang. Tungau pada manusia hanya menular ke sesama manusia, begitu juga dengan tungau pada binatang.

Balantidium coli lebih sering ditemukan di negara-negara berkembang.

Toxoplasma gondii lebih sering dijumpai pada kucing daripada domba ataupun babi. Semua bisa dihindari dengan cara hidup higienis dan memasak makanan dengan sempurna.

8. Daging babi empuk banyak mengandung lemak berbahaya, sulit dicerna oleh badan manusia.

Salah. 
Dilihat perbandingan kandungan nutrisi antara daging babi, daging ayam, dan daging sapi. Lemak yang terkandung di daging babi juga terdapat di daging ayam maupun daging sapi, yaitu saturated fat, polyunsaturated fat, dan monounsaturated fat. Untuk 100 gram, daging sapi mempunyai kadar lemak total paling tinggi, saturated fat paling tinggi, monounsaturated fat tertinggi. Sedangkan pada 100 gram daging ayam mempunyai kadar polyunsaturated fat paling tinggi.

9. DNA babi mirip dengan manusia sehingga sifat buruk babi dapat menular kepada manusia.

Salah. 
Apabila kita membandingkan urutan non-kode dari lokasi yang sama pada genom, maka tidak ada kemiripan antara manusia dan babi. Justru manusia lebih mirip dengan simpanse dan kera-kera lainnya. Apalagi tak ada bukti bahwa mengkonsumsi hewan yang mempunyai DNA yang mirip dapat menularkan sifat buruk. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Singapur, Inggris, Prancis, Italia, Canada, dll adalah negara pengonsumsi babi, negara tersebut tergolong jauh lebih rapi dan bersih dibandingkan negara-negara berkembang macam India, Bangladesh, Indonesia, Pakistan, dan negara-negara Afrika yang justru banyak pemukiman kumuh dan penyakit yang berhubungan dengan higienitas dan sanitasi yang buruk.

10. Babi merupakan carrier virus Flu Burung (Avian influenza) dan Flu Babi (Swine Influenza).

Salah. 
Virus flu burung H5N1 tidak berasal dari babi, melainkan dari unggas. Sedangkan virus H1N1 adalah virus influenza yang dulu menyerang manusia namun dikira berasal dari babi. Semua virus influenza bermutasi pada semua inangnya, tidak hanya pada babi, namun juga unggas dan mamalia lainnya.

Kesimpulan : banyak “fakta” yang beredar adalah salah alias hoax. Cacing-cacing yang ada pada babi pun akan mati dengan pemasakan yang matang, beberapa penyakit yang ada pada babi juga sebenarnya ditemukan pada hewan-hewan lainnya. Sederhananya, lihat urutan negara-negara tersehat di dunia dengan tingkat harapan hidup penduduk tertinggi, maka anda akan menemukan fakta kalau mayoritas dari mereka adalah negara pengkonsumsi babi.

Babi bisa amat berguna, apalagi bisa dimasak dan diolah dengan 1001 macam cara dan rasanya lezat....jadi jangan menyalahkan babinya....salahkan tukang masaknya....
😀😀😀😀

NB : Ada yang menanggapinya secara praktis dengan ilmu yang dikuasainya, terima kasih...

Saya sih bukan ahli biologi ya tapi saya kebetulan hanya seorang dokter hewan praktisi yg kebetulan juga mempelajari anatomi hewan.

No.1 babi memiliki leher krn dia memiliki tulang os vetebrae cervicalis itu tulang leher bukan tulang dada

No. 3. Babi tidak memakan kotorannya kembali itu betul kecuali mereka kelaparan, sama halnya seperti hewan lain jika ingin survive bahkan kelinci pun kadang memakan kotorannya sendiri.
Babi itu seperti hewan lain
kenyang akan stop makan dan langsung tidur.
Hewan ruminansia (sapi, kuda, jerapah) memiliki kebiasaan memakan makanannya dengan memuntahkan dan memakannya kembali.

5.6.7 : perlu saya ingatkan bahwa sapi memiliki penyakit antrax yg walaupun sapi itu mati mau itu dikubur atau dibakar bakteri antrax tidak akan mati namun akan menetap selama 100 tahun pada daerah yg terjangkit dan juga ada brucellosis yg cukup berbahaya tidak hanya itu sapi pun jika terkena cacing pita, telur cacing pita bisa di temukan pada otot masseter atau pipi, leher, dan anggota gerak yg di kaki,, makanya ketika idul adha saya beserta tim pemeriksa daging selalu mengecek lokasi2 tersebut sebelum di potong2 dan dibagikan ke kawan2 muslim, tak hanya itu juga hati pun bisa terdapat fasciola gigantika, dulu saya pernah teliti di jawa barat yaitu 3 dari 5 sapi terinfeksi fasciola gigantika,
Lalu di Babi ?? Untuk sementara penyakit berbahaya Babi yg cukup ditakuti bukan cacing pita melainkan hog cholera namun vaksin hog cholera pun sudah ada jadi sudah ada pencegahan mengenai penyakit tersebut.

10. Untuk virus h5n1 yaitu flu Burung sendiri TIDAK BERMUTASI menjadi virus H1N1
Karena virus dengan kode H dan N adalah virus yg menyebabkan sel darah merah menggumpal dan mengikat virus itu dengan sel yang terinfeksi.

https://m.youtube.com/watch?v=PgagI2-25JI
http://lahkokbisa.blogspot.co.id/2015/08/185-kegunaan-babi-yang-perlu-anda.html?m=1
http://www.bbc.com/indonesia/vert_earth/2015/11/151030_vert_earth_babi
https://m.detik.com/food/info-kuliner/d-2121176/daging-sapi-vs-babi-mana-yang-lebih-bergizi
http://intan-kusumasari.blogspot.com/2013/03/manfaat-babi-di-dunia.html?m=1
https://www.google.com/amp/s/kupretist.wordpress.com/2016/10/12/manfaat-babi-untuk-dunia-kedokteran-dan-umat-manusia/amp/
http://www.bbc.com/future/story/20180126-the-100-most-nutritious-foods
https://cookpad.com/id/cari/daging%20babi